Senin, 25 Mei 2015

BULU BABI (ECHINODERMATA)


 


Bulu Babi merupakan salah satu jenis komoditas perairan yang gonadnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan potensial. Gonad yang banyak dicari konsumen adalah gonad yang bertekstur kompak, padat, tidak berlendir, dan berwarna kuning cerah. Selain menjadi sumber pangan dunia, Bulu Babi ternyata memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Kematian massal Bulu Babi yang pernah terjadi di perairan Pasifik Barat dengan tingkat kematian mencapai 93-100% ternyata mengakibatkan terjadinya biomassa alga meningkat sehingga kesetimbangan ekosistem terganggu. Biota laut berduri ini juga ternyata memiliki keunikan yang tidak lazim yaitu kemampuan hidup yang dapat mencapai 200 tahun. Selain itu, Bulu Babi juga dinyatakan sebagai saudara tua manusia dengan  hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa 70 persen gen Bulu Babi ternyata memiliki kemiripan dengan manusia.         
Perikanan Bulu Babi telah dikenal semenjak 1000 tahun sebelum Masehi, terutama di kawasan Mediterania (SLOAN 1985). Di Eropa Barat bagian selatan, perikanan Bulu Babi terutama berkembang di Perancis dan Italia. Gonad Bulu Babi diolah menjadi masakan dengan bumbu khusus. Selain di Eropa Barat bagian selatan, kebiasaan makan gonad Bulu Babi ini juga telah membudaya di Jepang dan Korea. Di Jepang gonad Bulu Babi dikenal dengan sebutan “uni”, dan merupakan komponen utama dalam jenis masakan yang disebut “sushi”. Selain dimakan dalam bentuk masakan yang diolah khusus, gonad Bulu Babi ini juga dimakan mentah dengan bumbu cuka, kecap atau diasin. Produk Bulu Babi di Jepang dihasilkan sendiri, disamping itu juga diimpor dari berbagai negara seperti ; Amerika, Kanada, Meksiko, Cili, Peru, Hongkong, Taiwan, Australia dan Filipina. Di daerah Karibia, Bulu Babi ini dikonsumsi oleh penduduk setempat terutama di Barbados. Selain itu juga dikonsumsi oleh imigran asal Italia dan Perancis, yang telah menetap di Amerika dan di Australia. Bagian Bulu Babi yang dimakan adalah bagian yang dikenal dengan gonad, baik gonad jantan maupun gonad betina. Pada Bulu Babi regular, setelah cangkang luar dipotong melintang akan terlihat lima lobus gonad yang berwarna kuning muda, krem sampai coklat tua. Ukuran dan berat gonad ini akan mencapai maksimum menjelang masa memijah. Di Indonesia Bulu Babi dimakan sebagai campuran sayur, seperti di Pulau-Pulau Seribu dan daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur.

Deskripsi dan Klasifikasi Bulu Babi
Bulu Babi termasuk Filum Echinodermata, bentuk dasar tubuh segilima. Mempunyai lima pasang garis kaki tabung dan duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri memungkinkan binatang ini merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan untuk berjalan di pasir. Cangkang luarnya tipis dan tersusun dari lempengan-lempengan yang berhubungan satu sama lain (www.pipp.dkp.go.id)
Diadema setosum merupakan satu diantara jenis Bulu Babi yang terdapat di Indonesia yang mempunyai nilai konsumsi (Azis 1993 dalam Ratna 2002). Diadema setosum termasuk dalam kelompok echinoid beraturan (regular echinoid), yaitu echinoid yang mempunyai struktur cangkang seperti bola yang biasanya sirkular atau oval dan agak pipih pada bagian oral dan aboral. Permukaan cangkang di lengkapi dengan duri panjang yang berbeda-beda tergantung jenisnya, serta dapat digerakkan (Barnes 1987 dalam Ratna 2002). Klasifikasi Bulu Babi spesies Diadema setosum adalah:

Kingdom:
Phylum:
Class:
Order:
Family:
Genus:
Species:
D. setosum
Diadema setosum
Leske, 1778

Hewan yang memiliki nama Internasional sea urchin atau edible sea urchin ini tidak mempunyai lengan. Tubuhnya umumnya berbentuk seperti bola dengan cangkang yang keras berkapur dan dipenuhi dengan duri-duri (Nontji 2005). Durinya amat panjang, lancip seperti jarum dan sangat rapuh. Duri-durinya terletak berderet dalam garis-garis membujur dan dapat digerak-gerakkan, panjangnya dapat mencapai ukuran 10 cm dan lebih. Penyelam yang tidak menggunakan alas kaki mudah sekali tertusuk durinya sehingga akan sedikit merasakan demam karena bisa pada duri tersebut, racunnya sendiri dapat dinetralisir dengan amonia, perlakuan asam ringan (jeruk lemon atau cuka).
Berdasarkan bentuk tubuhnya, kelas Echinodoidea dibagi dalam dua subkelas utama, yaitu Bulu Babi beraturan (regular sea urchin) dan Bulu Babi tidak beraturan (irregular sea urchin) (Hyman 1955 dalam Ratna 2002), dan hanya Bulu Babi beraturan saja yang memiliki nilai konsumsi (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Tubuh Bulu Babi sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian oral, aboral, dan bagian diantara oral dan aboral (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Pada bagian tengah sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan interambulakral berada diantara sistem apikal dan sistem peristomial. Di tengah-tengah sistem apikal dan sistem peristomial termasuk lubang anus yang dikelilingi oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah keping-keping genital. Salah satu diantara keping genital yang berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem pembuluh air (waste vascular system). Sistem ini menjadi cirri khas Filum Echinodermata, berfungsi dalam pergerakan, makan, respirasi, dan ekskresi. Sedangkan pada sistem peristomial terdapat pada selaput kulit tempat menempelnya organ “lentera aristotle”, yakni semacam rahang yang berfungsi sebagai alat pemotong dan penghancur makanan. Organ ini juga mampu memotong cangkang teritip, molusca ataupun jenis Bulu Babi lainnya (Azis 1987 dalam Ratna 2002). Di sekitar mulut Bulu Babi beraturan kecuali ordo Cidaroidea terdapat lima pasang insang yang kecil dan berdinding tipis (Hyman 1955 dan Barnes 1987 dalam Ratna 2002).
 Hewan unik ini juga memiliki kaki tabung yang langsing panjang, mencuat diantara duri-durinya. Duri dan kaki tabungnya digunakan untuk bergerak merayap di dasar laut. Ada yang mempunyai duri yang panjang dan lancip, ada pula yang durinya pendek dan tumpul. Mulutnya terletak dibagian bawah menghadap kedasar laut sedangkan duburnya menghadap keatas di puncak bulatan cangkang. Makanannya terutama alga, tetapi ada beberapa jenis yang juga memakan hewan-hewan kecil lainnya (Nontji, 2005).
Pada umumnya Bulu Babi berkelamin terpisah, dimana jantan dan betina merupakan individu-individu tersendiri (gonochorik/dioecious). Spesies gonochorik secara khusus memiliki rasio seks sendiri dan jarang bersifat hemafrodit. Munculnya hemafrodoitisme pada Tripneustes gratilla adalah 1 dari 550 individu. Pembelahan Bulu Babi terjadi secara eksternal, dimana sel telur dan sel sperma di lepas ke dalam air laut di sekitarnya (Sugiarto dan Supardi  1995 dalam Ratna 2002). Gonad jantan dan betina pada Bulu Babi juga sulit dibedakan tanpa menggunakan mikroskop. Secara kasar hanya warna yang digunakan untuk membedakan gonad. Misalnya pada Bulu Babi Paracentrotus livindus, gonad jantan berwarna kuning sedangkan betina berwarna orange.
Dalam penelitian Gunarto dan Setiabudi (2002) di perairan Pulau Barang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, didapati ukuran Bulu Babi terbesar memiliki kisaran tinggi cangkang 50-61 mm, diameter cangkang 86-94 mm, berat total 148-331 g. Sedangkan ukuran Bulu Babi terkecil dengan ukuran tinggi cangkang 27,2-36,4 mm, diameter cangkang 47,4-66,0 mm, dan berat total 41,4-110,9 g.
Bulu Babi termasuk organisme yang pertumbuhannya lambat. Umur, ukuran, dan pertumbuhan tergantung kepada jenis dan lokasi. Chen dan Run (1988) dalam Tuwo (1995) diacu dari Ratna (2002) melaporkan bahwa Bulu Babi jenis Tripeneuste gratilla yang dipelihara di laboratorium di Taiwan mengalami metamorfos pada umur 30 hari. Pertumbuhan Tripneustes gratilla sangat cepat pada awal perkembangannya, tetapi jumlahnya terbatas. Hal ini diduga erat kaitannya dengan banyaknya predator yang dialami oleh hewan berukuran kecil. Setelah mencapai umur tertentu, cangkangnya sudah cukup kuat sehingga jumlah predator yang dapat menyerang dan memecahkan cangkangnya berkurang. Bulu Babi mempunyai banyak predator, yaitu berbagai jenis ikan, termasuk hiu, anjing laut, lobster, kepiting, dan gastropoda (Kenner 1992; Tegner dan Dayton 1981 dalam Tuwo 1995). Hal ini juga menyebabkan rendahnya densitas Bulu Babi. Predator utama Bulu Babi jenis Diadema setosum adalah ikan Buntal (Tetraodon) dan ikan Pakol (Balistes) yang mempunyai gigi yang kuat dan tajam yang dapat mematahkan duri-duri dan mengoyak cangkang Bulu Babi (Nontji 2005). Mortalitas Bulu Babi umumnya sangat tinggi (Ebert 1975 dalam Tuwo 1995). Secara umum di alam Bulu Babi dapat mengalami kematian massal pada suhu 34-40˚ C .