Sabtu, 20 April 2013

Konsep Peasant



 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_EbZis42O9sqeTz-LqfnXrrat17Ph0smwHvo9TxR5Tf89Qz02R4pb8nxaobyCGB6i19Lo4voOQMaBqYQAETJ8-Byhyphenhyphenay1CvVKNrVhQfMVaOJCJW3ToYOFlIW7HNJGr6NdFYv5bN4A2HY/s1600/makovskiy_vladimir_peasant_children_1890.jpg

Terdapat bermacam-macam definisi yang mencoba menjelaskan pengertian tentang peasant. Definisi-definisi tersebut pada dasarnya mengacu pada sistem kehidupan peasant yang bersifat subsisten, artinya masyarakat dengan tingkat hidup yang minimal atau hanya sekedar untuk hidup. Sistem kehidupan subsisten ini bisa dikarenakan faktor kultural, yaitu sudah menjadi way of life yang diyakini dan membudaya di antara kelompok masyarakat, bisa pula karena faktor struktural yaitu karena faktor kepemilikan tanah.
Menurut Wolf (1966), peasant adalah petani yang menanam, memanen dan mendirikan peternakan di daerah pedesaan, tetapi tidak seperti petani komersial di Amerika, mereka ini lebih memperhatikan kebutuhan rumah tangga daripada mendapatkan keuntungan. Peasant menghasilkan suatu produksi untuk ditukarkan: surplus diserahkan kepada kelompok penguasa yang dominan dan sebagian digunakan untuk memelihara standar hidup mereka, sebagian lagi didistribusikan kepada penghuni kota dan para spesialis. Pada dasarnya masyarakat peasant adalah masayarakat pekerja tanah atau petani namun, adapula penghunu desa lain yang mengerjakan pekerjaan lain sebagai nelayan.
Peasant adalah suatu ekonomi pertanian dimana para petani (producers) yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga memberi sokongan terhadap para pekerja khususnya dalam ekonomi subsisten dan penduduk kota. Peasant berproduksi untuk ditukarkan. Karakter inilah ynag membedakan peasant dari produsen primitive (primitive producer). Keluarga adalah unit produksi utama, tetapi pada beberapa kasus rumah tangga mungkin juga tidak hanya terdiri dari para anggota sebuah keluarga, tetapi juga tenaga sewaan (budak dan pembantu rumah).
Perspektif sosiologi menyebut petani kecil dengan istilah peasant. Dalam konsep ini, peasant bukanlah seorang petani dengan lahan kecil, namun seorang petani yang berjiwa subsisten. Jiwa subsisten seorang petani mendorongnya hanya untuk melakukan usaha pertanian sekedar mencukupi kebutuhan minimal hidupnya. Sementara petani yang memiliki jiwa wirausaha dan cenderung mengejar keuntungan dalam setiap usaha pertaniannya, dia tidak bisa disebut sebagai peasant, melainkan agricultural entrepreneur “petani modern”.
“ekonomi peasant adalah sistem berskala kecil, dengan teknologi dan peralatan yang sederhana, seringkali hanya memproduksi untuk mereka sendiri yang hidupnya subsisten. Usaha pokok untuk hidup dengan mengolah tanah”. Menurut Firth (1986) dalam Satria (2002).
Definisi Belshaw (1965) lebih lugas; menyebut masyarakat peasant sebagai masyarakat yang way of life-nya berorientasi pada tradisionalitas; terpisah dari pusat perkotaan tetapi memiliki keterkaitan dengannya; mengkombinasikan kegiatan pasar dengan produksi subsisten.
Secara sederhana subsistensi diartikan sebagai cara hidup yang cenderung minimalis. Wharton (1963) mengklasifikasikan subsistensi dalam dua jenis, yaitu subsistensi produksi dan subsistensi hidup. Subsistensi produksi berkenaan dengan derajat komersialisasi dan monetisasi yang rendah. Sementara subsistensi hidup berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan minimal sekedar untuk bertahan hidup.  
Sehubungan dengan pola kebudayaan subsisten peasant, Rogers mengemukakan tentang karakteristik dari subkultur peasant yaitu :
a.       Saling tidak mempercayai dalam berhubungan antara satu dengan yang lainnya,
b.       Pemahaman tentang keterbatasan segala sesuatu di dunia, sikap tergantung sekaligus bermusuhan terhadap kekuasaan,
c.       Familisme yang tebal,
d.      Tingkat inovasi yang rendah,
e.       Fatalisme,
f.       Tingkat aspirasi yang rendah,
g.      Kurangnya sikap penangguhan kepuasan,
h.      Pandangan yang sempit mengenai dunia, dan
i.        Derajat empati yang rendah.
Redfield (1941) mendefenisikan peasant community sebagai suatu masyarakat kecil yang tidak terisolasi dan tidak memenuhi semua kebutuhan hidupnya, tetapi disuatu pihak mempunyai hubungan horizontal dengan komunitas-komunitas petani lain disekitarnya. Di pihak lain, mereka memiliki hubungan vertikal dengan komunitas-komunitas didaerah perkotaan.
Dalam Satria (2002) digambarkan pula bahwa Redfield menganggap suatu komunitas kecil adalah bagian yang terintegrasi dari lingkungan alam tempat komunitas kecil itu berada. Oleh karena itu, komunitas kecil merupakan suatu system ekologi dengan masyarakat dan kebudayaan penduduk serta lingkungan alam setempat sebagai dua unsure pokok dalam suatu lingkaran pengaruh timbale balik yang mantap. Dengan demikian, jenis komunitas kecil pada masyarakat nelayan merupakan sistem ekologi yang dapat menggambarkan betapa kuatnya interaksi antara masyarakt nelayan dan lingkungan pesisir dan laut. Menurut Satria (2002), peasant-fisher atau nelayan tradsional yang biasanya lebh berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri (subsistance). Sebutan ini muncul karena alokasi hasil tangkapan yang dijual lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (khususnya pangan) dan bukan diinvestasikan kembali untuk pengembangan skala usaha. Umumnya merekamasih menggunakan alat tangkap tradisional dayung atau sampan tidak bemotor dn masih melibatkan anggota keluarga sebagai tenaga kerja utama.

1 komentar: